PEMILIHAN
BUKU PELAJARAN KOMUNIKATIF: TANTANGAN
GURU BAHASA DALAM PENERAPAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF
(Telaah
Kritis terhadap Buku Choosing Your Coursebook, Karangan Alan
Cunningsworth, Bab 10)
A.
Pendahuluan
Bahasa merupakan alat komunikasi yang
paling ampuh untuk menjalin hubungan antara satu dengan yang lain, antara
bangsa dengan bangsa lain. Dalam mempelajari bahasa, tidaklah mudah oleh
karenanya diperlukan suatu pendekatan, metode, dan tehnik. Salah satu
pendekatan dan metode yang pada dekade terakhir ini banyak dipakai oleh para
pengajar bahasa baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi adalah
pendekatan komunikatif.
Munculnya istilah Communicative
Approach berawal dari suatu artikel yang ditulis oleh Dell Hymes tahun 1972
yang berjudul On Communicative Competence, yang isinya menyangkut
defenisi kemampuan komunikatif yaitu suatu penguasaan bahasa secara naluriah
dan wajar dari seorang pemakai bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain dan
dalam hubungan dengan konteks sosial
(Nababan, 2005 : 63). Menurut Hymes, Communicative Competence diartikan
sebagai “the knowledge of how to use the language appropriate to a
given situation”. Karenanya apabila tujuan pengajaran bahasa beralih ke
pengembangan kemampuan komunikatif siswa, maka perhatian guru harus dipusatkan
kepada penggunaan bahasa itu sendiri (language use) untuk maksud-maksud komunikasi,
dan bukan pada bentuk bahasa (usage). Sehingga pada penyajiannya tidak bersifat
gramatika yang hanya memungkinkan siswa hanya dapat membuat kalimat-kalimat
dengan benar. (Pateda 1991 : 86)
Dalam pendekatan komunikatif yang menjadi
acuan adalah kebutuhan akan bahasa siswa, bagaimana seorang siswa mampu
berkomunikasi secara baik sesuai dengan fungsi bahasa itu sendiri jadi bukan
tata bahasa. Di sini yang menjadi pusat kegiatan adalah siswa
bukanlah guru, guru hanya sebagai pengawas atau motivator.
Pembelajaran bahasa di sekolah harus berjalan ke arah kebijaksanaan yang
telah disusun sebelumnya dalam bentuk kurikulum. Buku ajar atau buku pelajaran yang merupakan salah satu komponen penting
dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas, juga harus
disusun berdasarkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh kurikulum nasional.
Di Indonesia pengembangan kurikulum bahasa dapat dipetakan ke dalam lima periode, yakni:
(1) Kurikulum tahun 1975; (2) Kurikulum tahun 1986; (3) Kurikulum tahun 1994;
Kurikulum tahun 2004; dan (5) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang
mengacu kepada standar nasional pendidikan. Dari kelima periode pengembangan
kurikulum tersebut, landasan atau pendekatan yang digunakannya hanya mencakup
tiga, yakni Pendekatan Audiolingual mewarnai kurikulum tahun 1963 hingga
kurikulum 1975 , Pendekatan Komunikatif melandasai Kurikulum Tahun 1986 hingga
tahun 1994, dan Pendekatan gabungan antara Pendekatan Komunikatif berbasis
wacana dengan Pendekatan Literasi mewarnai naskah Kurikulum 2004 dan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang bermuara pada naskah kurikulum tahun 2004.Kurikulum
2004 dan KTSP telah diarahkan menumbuhkan sikap apresiatif dan keterampilan
ekspresif. Buku ajar bukan hanya sekedar
pelengkap kehadiran guru di dalam kelas.Bentuk-bentuk pelatihan lisan dan
perbuatan sungguh merupakan hal yang
tidak mungkin dapat ditampilkan secara utuh dalam buku ajar yang selama ini
cenderung memuat bahan yang lengkap karena sifatnya yang lebih mengutamakan
aspek keterampilan tertulis kini harus berubah karena kurikulum tersebut secara
seimbang akan melatih keterampilan bahasa secara lisan dan tertulis.
Oleh
karena itu dibutuhkan pengetahuan guru dalam memilih buku ajar atau buku
pelajaran yang tepat dalam pembelajaran. Pendekatan komunikatif tidak menawarkan pada guru untuk menggunakan
buku teks secara mutlak, guru harus memilih, menyelaraskan dan harus menemukan
materi yang akan diberikan.
B. Resume Isi Bab
Dalam bukunya yang berjudul ”Choosing Your
Coursebook” Alan Cunningsworth
menjelaskan dengan detail segala sesuatu tentang buku pelajaran untuk pelajaran
bahasa termasuk apa,bagaimana buku pelajaran bahasa yang komunikatif.Berikut
ini adalah resume bab 10 yang membahas
tentang ’Communicative Coursebook’
1. Tujuan
Pengajaran Bahasa Komunikatif
Pengajaran
bahasa umumnya mengacu pada tujuan
komunikatif, praktik komunikatif, atau metodologi komunikatif. Begitu juga buku
ajar. Sebagian besar besar buku ajar menekankan pada kebutuhan siswa untuk berkomunikasi
secara efektif: Kebutuhan siswa untuk mengetahui bahwa bahasa yang akan mereka
pelajari bisa membuat mereka mampu mengkomunikasikan kebutuhan, ide, dan
pendapat mereka.
Richards dan Rodgers menganggap
pengajaran bahasa komunikatif
lebih sebagai (dalam istilah mereka) sebuah pendekatan daripada sebuah
metode. Perbedaan yang mereka buat adalah bahwa tidak ada seorang pun yang
menerima metodologi untuk pengajaran bahasa komunikatif: hal itu bisa dilakukan
dengan cara yang berbeda,dan sifatnya
yang luas dan komprehensif membuatnya
berada dalam pembahasan yang lebih besar daripada pendekatan dan metode.
Tujuannya adalah untuk mewujudkn kompetensi komunikatif tujuan pengajaran
bahasa dan mengembangkan prosedur untuk pengajaran empat keterampilan bahasa
yang menunjukkan adanya saling ketergantungan antara bahasa dan komunikasi.
Landasan teoretisnya menurut Richards dan Rodgers,
meliputi karakter berikut ini:
a. Bahasa adalah sebuah sistem
untuk menyatakan makna
b. Fungsi utama bahasa adalah
untuk interaksi dan komunikasi
c. Struktur bahasa mencerminkan
manfaat komunikatif dan fungsional
d. Unsur-unsur bahasa
tidak saja dalam bentuk struktur dan gramatikanya, tetapi juga kategori
makna komunikatif dan fungsional sebagaimana yang terungkapdalam wacana
2.
Buku-Buku Pelajaran Komunikatif:
Desain dan isi
Menyadari beberapa dari prinsip teoretis ini dalam materi pelajaran
bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, khususnya ketika ada kriteria
persaingan yang harus diperhatikan, seperti memberi dasar yang bertahap tetapi
menyeluruh dalam tatabahasa. Lebih dari itu, seperti yang kita telah kita
lihat, bahan pelajaran yang bermacam-macam bisa menjadi komunikatif dengan cara
yang berbeda. Buku pelajaran umum bisa berisi interaksi yang menunjukkan
beberapa bentuk komunikasi dalam kehidupan nyata, sebuah buku tentang main
peran bisa membentuk situasi realistis di mana pembelajar bisa berkomunikasi;
bahan yang memfokuskan pada bahas tertulis bisa membentuk aktivitas realistis
yang meliputi membaca dan menulis. Semuanya ini bisa dianggap komunikatif
hingga isi yang lebih banyak atau sedikit.
Buku
pelajaran harus mampu menyajikan aktivitas komunikatif yang nyata,tetapi penyajian aktivitas komunikatif, sering didasarkan pada informasi yang telah dibuat yang meliputi
manfaat bahasa yang komunikatif dalam konteks kelas. Dalam hal ini lebih besar
potensi transfer yang dimiliki, semakin bernilai pula aktivitas tersebut. Little
Wood (1981) membedakan antara aktivitas
komunikasi pura-pura,aktivitas komunikasi fungsional, dan aktivitas interaksi
sosial, setiap aktivitas tersebut menjadi menjadi sebuah tahapan yang lebih
komunikatif daripada sebelumnya.
Salah
satu masalah utama yang ditemui penulis buku pelajaran dalam mengusahakan untuk
mewujudkan komunikasi asli adalah kompleksita intrinsiknya yang tak bisa
diprediksi dan relatif. Jika hal itu bisa diprediksikan semua, interaksi tidak
perlu terjadi lagi kecuali kemungkinan untuk tujuan tertentu, karena partisipan
akan mengetahui hasil sebelum dimulai. Tentu saja kita harus memahami keadaan
tak dapat diprediksi tersebut sebagai karakter interaksi komunikatif yang
berbeda, dan memperhatikan bagaimana buku pelajaran menuntun pembelajar
menguasainya baik secara produktif maupun reseptif.
3. Elemen
yang Tidak Dapat Diprediksi: Studi kasus
Mayoritas pembelajar dan pengajar belum begitu banyak menggunakan
peralatan perangkat keras dan lunak, dan masih menggantungkan pada buku sebagai
sumber materi utama. Pada keadaan ini guru tampak mempunyai peran yang lebih
penting daripada biasanya dalam menjamin bahwa interaksi kelas tidak selalu
sama dan dapat diprediksi.Buku pelajaran dapat membantu mengusahakan hal ini
melalui penyediaan latihan latihan dan aktivitas komunikatif,memfokuskan pada
interaksi lisan. Dalam hal ini
penanganan keadaan yang tidak dapat diprediksi sangat penting, saat
pembatas waktu nyata muncul dan siswa harus memahami dan merespon dalam hitungn
detik.
Kebanyakan dalam buku pelajaran yang berlabel komunikatif dialog
membentuk dasar aktivitas main peran, di mana isi dialog diciptakan dari
memori. Bisa dilihat bahwa walaupun bentuk ini adalah praktik bahasa lisan,
hanya ada sedikit yang bisa disebut komunikatif jika kita memasukkan keadaan
yang tidak bisa diprediksi sebagai sifat utama interaksi komunikatif, karena dialog semunya telah ditentukan,dan
aktivitas siswa sama saja telah ditentukan sebelumnya.
Satu cara yang bermanfaat untuk membuat aktivitas
buku pelajaran mendekati kehidupan nyata adalah menempatkan dialog dengan satu
perangkat instruksi yang jika diikuti,akan memungkinkan dua atau lebih siswa
bekerja bersama membuat conversation. Di sini mereka diberi tahu apa yang harus
mereka katakan, tetapi bukan bagaimana mereka harus mengatakannya. Sehingga
aaktivitas tidak seluruhnya komunikatif karena siswa mengatakan apa yang telah
dikatakan kepada mereka dan bukan apa yang mereka sendiri memutuskan untuk mengatakannya.
Tetapi hal ini merupakan praktik yang berharga dalam membuat wacana lisan dan
membawa pada faktor-faktor drama seperti rencana strategis komunikasi,
pembentukan kerangka wacana yang lebih panjang, dan elemen kooperatif yang
perlu untuk pertukaran makna yang efektif dan pemahaman maksud pembicara.
Satu
cara yang bermanfaat untuk membuat aktivitas buku pelajaran mendekati kehidupan
nyata adalah menempatkan dialog dengan satu perangkat instruksi yang jika
diikuti,akan memungkinkan dua atau lebih siswa bekerja bersama membuat
conversation. Di sini mereka diberi tahu apa yang harus mereka katakan, tetapi
bukan bagaimana mereka harus mengatakannya. Sehingga aaktivitas tidak
seluruhnya komunikatif karena siswa mengatakan apa yang telah dikatakan kepada
mereka dan bukan apa yang mereka sendiri memutuskan untuk mengatakannya. Tetapi
hal ini merupakan praktik yang berharga dalam membuat wacana lisan dan membawa
pada faktor-faktor drama seperti rencana strategis komunikasi, pembentukan
kerangka wacana yang lebih panjang, dan elemen kooperatif yang perlu untuk
pertukaran makna yang efektif dan pemahaman maksud pembicara.
4. Bahasa
Buku pelajaran dan fungsi bahasa pada kehidupan nyata
Conversation
nyata kurang terstruktur dengan baik karena mengandung keraguan, kalimat tak
lengakap. Semua bentukitu tentu saja
ciri khas bahasa lisan yang dihasilkan
oleh native speaker (pembicara asli ). Dalam
penelitian pada beberapa dialog natural yang btercatat diketahui bahwa Tampak jelas bahwa 96% respon pada permintaan untuk menunjukkan
jalan tidaklah mulai dengan memberikan petunjuk nyata, tetapi dimulai dengan
beberapa pembuka.Pembuka ini kemudian selesai dengan penanda ’keterbacaa’yang
mengindikasikan bahwa petunjuk merk sendiri sudah akan mulai.Ini biasanya
nengambil bentuk atau jeda (filler) seperi um...okay.Bentuk petunjuk mereka
sendiri bisa diprediksikan tetpi menunjukkan lebih banyak variasi dalam tipe
daripada dalam dialog buku pelajaran. Pilihan yang dipilih adalah imperatif
tetapi lebih dari 74% pembicara menggunakan lebih dari satu tipe dan lebih dari
51% menggunakan tiga atau lebih tipe. Ini termasuk you + verb (misalnya
you go), you+auxilaary + main verb (misalnya you want to go up this street)
dan tipe tak langsung seperti The
best way to go would be to...
Walaupun mereka tidak akan menggunakan
dengan tepat jenis conversation asli/alami yang telah kita lihat, dalam konteks
ini buku pelajaran seharusnya memungkinkan pembelajar untuk memahami cara yang
lebih spesifik dalam memberi petunjuk daripada yang terdapat di dalam dialog
umumnya. Lebih dari itu penelitian itu menyarankan bahwa pembelajar akan
membutuhkan lebih banyakpenggunaan bahasa untuk meminta petunjuk daripada
permintaan awal saaja
5. Penyusunan
percakapan
Salah satu bagian dasar percakapan adalah
giliran dan penggunaan giliran adalah kecakapan penting untuk siapa pun yang
ingin mengambil bagian dalam conversation/percakapan. Faktanya penggunaan
giliran muncul dengan pengaturan waktu detik di antara dua atau lebih orang menggambarkan
bentuk kolaboratif percakapan dan menyarankan bahwa ada aturan dan konvensi
untuk penggunaan giliran yang dibagi oleh semua anggota oleh semua anggota
komunitas pidato. Pertama ada poin tertentu dalam percakapan (mungkin pada
akhir klausa utama) di mana pembicara yang lain bisa masuk dan di mana
pembicara sekarang paling tahu dalam interaksi Kedua, di mana interupsi muncul,
pembicara mempunyai hak untuk memilih siapa yang berbicara beriutnya. Ketiga dia bisa melakukan ini dengan
menggunakan kombinasi isyarat linguistik,paralingustik, dan kinestetik seperti
memanggil pembicara yang dinominasikan dengan namanya, tau dengan penggunaan
kontak mata. Buku pelajaran yang tertarik dalam memungkinkan pembelajar
beraktivitas komunikatif bisa menyediakan model dan mempraktikkan penggunaan
giliran dan teknik interupsi. Ini bisa meliputi identifikasi tempat di mana
pembicara berikutnya bisa masuk, baik dinominasikan maupun tidak, mempelajari
cara menominasikan pembicara berikutnya, dan mempelajari formula yang sesuai
untuk menginterupsi.
Berlatih dengan pasangan berdekatan sejenis dalam
dialog pendek yang realistis akan membantu pembelajar dalam keterampilan
memprediksi dan mengembangkan kemampuan untuk merespon kenyataan. Buku
pelajaran benar-benar memasukkan pasangan berdekatan tersebut dalam dialog dan
percakapan mereka tetapi karena selalu
kita seharusnya meihat dengan seksama sejauh mana percakapan alami bisa ditampilkan.
6. Gaya dan
ketepatan
Buku pelajaran yang mempunyai tujuan komunikatif
diharapkan perhatiannya dalam masalah gaya dan kita harus menelitinya jika
mereka melakukan seperti itu.
C. Pembahasan Masalah
Berdasarkan Buku ”Choosing Your Coursebook” bab X perumusan masalah dalam makalah ini
adalah:
- Apakah tujuan pengajaran bahasa komunikatif dalam buku-buku ajar/buku pelajaran?
- Bagaimanakah desain dan isi buku ajar/pelajaran komunikatif?
- Apakah elemen/bagian yang tidak dapat diprediksi dalam buku ajar komunikatif?
- Bagaimanakah bahasa dalam buku ajar komunikatif?
- Bagaimanakah pengorganisasian percakapan dalam buku ajar komunikatif?
Berikut ini adalah telaah kritis pada buku Choosing Your Coursebook bab X.
1. Tujuan
Pengajaran bahasa Komunikatif
Pembelajaran
bahasa di sekolah harus berjalan ke arah kebijaksanaan nasional yang telah
disususn sebelumnya dalam bentuk kurikulum. Buku ajar atau buku pelajaran yang
merupakan salah satu komponen penting yang mendukung keberhasilan proses
pembelajaran di kelas juga harus disusun berdasarkan tujuan-tujuan yang hendak
dicapai oleh kurikulum nasional. Pengembangan kurikulum bahasa dapat dipetakan ke dalam lima periode, yakni:
(1) Kurikulum tahun 1975; (2) Kurikulum tahun 1986; (3) Kurikulum tahun 1994;
Kurikulum tahun 2004; dan (5) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang
mengacu kepada standar nasional pendidikan. Dari kelima periode pengembangan
kurikulum tersebut, landasan atau pendekatan yang digunakannya hanya mencakup
tiga, yakni Pendekatan Audiolingual mewarnai kurikulum tahun 1963 hingga
kurikulum 1975 , Pendekatan Komunikatif melandasai Kurikulum Tahun 1986 hingga
tahun 1994, dan Pendekatan gabungan antara Pendekatan Komunikatif berbasis
wacana dengan Pendekatan Literasi mewarnai naskah Kurikulum 2004 dan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang bermuara pada naskah kurikulum tahun 2004
(Sundayana, 2010:2).Kurikulum 2004 dan KTSP telah diarahkan menumbuhkan sikap
apresiatif dan keterampilan ekspresif.
Konsep
kompetensi komunikatif diangkat dari dikotomi Chomsky (1965) yang membedakan
komponen penguasaan bahasa menjadi dua bagian, yaitu kompetensi (competence)
dan performansi (performance) atau unjuk perbuatan. Selanjutnya, Chomsky (dalam
Alwasilah, 2003:9) membedakan konsep performansi dan kompetensi dalam dua
versi, yaitu versi kuat dan versi lemah (weak sense and strong sense). Versi
kuat menyatakan bahwa kemampuan kompetensi deugan performansi pada diri
seseorang saling berhubungan. Sebaliknya, dalam versi lemah diyakini bahwa
kemampuan kompetensi dengan performansi tersebut tidak berhubungan.
Kompetensi
kebahasaan bertalian dengan pengetahuan penutur terhadap struktur bahasa
sebagai suatu sistem dan merupakan kemampuan potensial dalam diri penutur. Melalui
kemampuan potensial tersebut, penutur dapat menciptakan tuturan-tuturan, biasanya
berupa kalimat-kalimat baru yang dapat dimengerti oleh Iawan bicaranya,
walaupun bagi mitra tuturnya, kalimat-kalimat tersebut juga merupakan kalimat baru.
Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa kompetensi linguistik merupakan daya dorong
untuk berbahasa secara kreatif.
Meskipun
revolusi Chomsky ini telah mendekati bentuk pendekatan yang berdasarkan kebermaknaan,
namun baru pada akhir tahun enam puluhan diperkenalkan apa yang disebut sebagai
Communicative Competence (Dell Hymes, 1966, dalam Alwasilah,2003:23),
yang pada akhirnya melahirkan Communicative Approach. Menurut
Hymes, Communicative Competence diartikan sebagai “the knowledge
of how to use the language appropriate to a given situation”. Karenanya
apabila tujuan pengajaran bahasa beralih ke pengembangan kemampuan komunikatif
siswa, maka perhatian guru harus dipusatkan kepada penggunaan bahasa itu
sendiri (language use) untuk maksud-maksud komunikasi, dan bukan pada
bentuk bahasa (usage). Sehingga pada penyajiannya tidak bersifat
gramatika yang hanya memungkinkan pelajar hanya dapat membuat kalimat-kalimat
dengan benar. (Widdowsow, 1978).Dimensi lain yang muncul pada saat itu adalah
adanya gagasan fungsional dan komunikatif. Pembelajaran bahasa tidak hanya
sekadar bertujuan untuk menguasai kaidah-kaidah gramatikal, tetapi yang lebih
penting ialah memiliki kompetensi komunikatif. Itulah sebabnya pendekatan
audiolingual ditolak, pendekatan situasional dipertanyakan dan muncullah
pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa.
Guna mencapai maksud diatas, maka pada
awal tahun tujuh-puluhan para pakar pengajaran bahasa mulai mengembangkan suatu
pendekatan dalam pengajaran bahasa dengan berbagai perubahan dan penyempurnaan
yang memungkinkan bagi siswa mampu berkomunikasi. Mereka menamakan penemuan ini
dengan “Communicative Approach, atau (Pendekatan Komunikatif)
(Littlewood, 1984). Para pakar tersebut
mengambangkan program bahasa atas dasar sistem satuan kredit. Dalam program
ini, materi pelajaran disusun dan dipecah-pecah menjadi satuan-satuan yang
lebih kecil atas dasar kebutuhan pelajar untuk berkomunikasi. Satuan-satuan ini
mewadahi tujuan-tujuan pengajaran bahasa, yaitu penguasaan ketrampilan dasar,
dan penguasaan
ketrampilan khusus (Van dan Alexander, 1980). Dalam pendekatan
komunikatif, para siswa diberikan kebebasan
untuk mengepresikan apa yang mereka inginkan dari bahasa. Pendekatan ini juga
membantu mereka dalam mengintegrasikan
diri dengan bahasa yang dipakai, seakan bahasa tersebut adalah milik mereka,
sehingga mereka bebas untuk mempergunakannya. Dengan kata lain bahwa pendekatan
ini memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pelajar untuk untuk berinprovisasi
dalam berbahasa. Secara spesifik pendekatan ini memberikan kita petunjuk tidak hanya
dalam pemakaian terma-terma struktural seperti --Grammar dan Vocabulary--tetapi
lebih dari itu ia memberikan petunjuk tentang terma-terma fungsi komunikatif,
karena dalam pendekatan komunikatif, penekanan pengajarannya bukan pada
pengetahuan tentang bahasa tetapi pada pengajaran bahasa atau kebermaknaan
bahasa itu sendiri. (Littlewood 1984).Berdasarkan keterangan di atas, maka para
siswa harus mengembangkan strategi tentang bagaimana menyatukan kaidah-kaidah
bahasa (structure) ke dalam fungsi komunikasi dalam keseharian mereka.
Mereka selalu dituntut untuk berperan aktif dalam segala situasi, tidak menunggu
adanya perintah dari guru. Mereka
bebas dalam berkomunikasi dan berimprovisasi tanpa harus takut salah atau
disalahkan.
Menurut
Johnson (1982, dalam Alwasilah, 2015:4), Pengajaran bahasa dengan Pendekatan
Komunikatif lebih bersifat humanistik karena sentralisasi kegiatan belajar
lebih berpusat pada mereka sendiri dibandingkan guru,--learner centred
rather than teacher centred--dan guru dalam proses ini lebih banyak
berfungsi sebagai fasilitator, pelajar diberi kebebasan, otonomi, tanggung
jawab dan kreatifitas yang besar dalam proses belajar. Sebagai seorang
fasilitator guru harus mengkoordinir kegiatan belajar dan harus bisa menjamin
bahwa proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar. Dalam kegiatan
komunikasi, guru berperan sebagai individu yang diharapkan dapat memberi
nasehat, memantau kegiatan pelajar, menentukan latihan dan memberikan bimbingan
Tujuannya
pengajaran komunikatif menurut Richards dan Rodgers (Cunningsworth, 1995), ada
dua dalam satu kesatuan: untuk
mewujudkan kompetensi komunikatif tujuan pengajaran bahasa dan mengembangkan
prosedur untuk pengajaran empat keterampilan bahasa yang menunjukkan adanya
saling ketergantungan antara bahasa dan komunikasi. Hal ini menurut Richards dan
Rodgers (dalam Cunningsworthh, 1995) berlandaskan pada teori bahwa
a. Bahasa adalah sebuah sistem
untuk menyatakan makna
b. Fungsi utama bahasa adalah
untuk interaksi dan komunikasi
c. Struktur bahasa mencerminkan
manfaat komunikatif dan fungsional.Unsur-unsur
bahasa tidak saja dalam bentuk
struktur dan gramatikanya, tetapi juga kategori makna komunikatif dan
fungsional sebagaimana yan terungkapdalam wacana
Menurut Syafei (1997:41) pembelajaran
bahasa yang didasarkan atas pendekatan komunikatif hendaknya dimulai dari
uraian prosedur yang bersifat umum sampai kepada yang bersifat khusus berkenaan
dengan aspek pembelajaran bahasa. Jadi, secara umum tujuan pembelajaran bahasa
yang berdasarkan pendekatan komunikatif adalah mempersiapkan pembelajaran untuk
melakukan interaksi yang bermakna dengan cara mengikhtiarkan pembelajar untuk
mampu memahami dan menggunakan bahasa secara alamiah.
Hal ini juga diungkapkan oleh Azies
(1996:7) yang mengatakan bahwa kemampuan siswa menggunakan bahasa secara aktual
dan alamiah merupakan tujuan utama penerapan pendekatan komunikatif. Jadi,
salah satu tugas guru dalam pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan
komunikatif adalah mengusahakan terjadinya peristiwa berbahasa secara
alamiah.
Dalam
kaitannya dengan pemilihan buku ajar komunikatif, di dalam buku ajar
komunikatif harus menampilkan tujuan pengajaran komunikatif itu sendiri. Seperti
pada buku Headway Intermediate yang mewujudkannya pada apa yang sering
disebut sebagai metodologi komunikatif :
-
Siswa tertantang secara kognitif
-
Mereka terlibat dalamproses pembelajaran
-
Mereka diminta memberi pendapat, pengalaman, dan perasaan mereka sendiri
-
Mereka mengambil bagian dalam aktivitas nyata dan realistis
-
Mereka didorong untuk bekerja sama dengan teman
-
Mereka didorong untuk memiliki tanggung jawab atas pembelajaran mereka
sendiri dan mengembangkan kecakapan/ketermpilan
pembelajaran mereka
-
Guru mengambil peran berbeda-beda (sebagai pemberi informasi, memonitor
proses pembelajaran, dan narasumber) tergantung pada tahapan pembelajrannya.
Cunningsworth sendiri merekomendasikan
pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab ketika kita mengamati sebuah buku
ajar yang menamamakan dirinya ’komunikatif’ apakah pendekatan dan tujuannya
telah sesuaisebagai berikut.
a. apakah tujuan buku ajar itu sesuai dengan
tujuan pembelajaran dan
kebutuhan para siswa ?
b. apakah
tujuan buku ajar sesuai dengan situasi belajar mengajar?
c.
seberapaluaskah cakupan bahannya?
d. apakah buku itu cukup fleksibel?
e. apakah buku itu memberikan kesempatan untuk
menggunakan gaya
mengajar
belajar yang
berbeda-beda
2. Desain
dan isi Buku Ajar Komunikatif
Bahan ajar
atau buku pelajaran merupakan media instruksional yang dominant perannya di kelas dan bagian sentral dalam sistem pendidikan (Aziez, 1996:
46). Ini disebabkan buku merupakan alat yang penting untuk
menyampaikan materi kurikulum. Kebutuhan akan buku teks menempati skala
prioritas yang paling utama. Apabila siswa akan diajarkan mengembangkan daya
pikirannya sendiri, sekolah harus memiliki buku-buku lain di samping
buku-buku teks.
Hal ini
pantas dipahami jika diingat bahwa dalam konteks pendidikan di Indonesia buku
ajar tidak saja berperan sebagai sumber ajar yang menyediakan materi
pembelajaran, tetapi bahkan berfungsi sebagai silabus. Ia memberikan panduan
instruksional kepada guru, yang memungkinkan mereka mengajar tanpa harus
melihat silabus. Inilah yang banyak dilakukan oleh guru di Indonesia. Dengan
demikian, kualitas pengajaran mereka sangat bergantung pada buku ajar (Aziez,
1996: 21).
Berkenaan dengan prosedur pembelajaran bahasa yang
berdasarkan pendekatan komunikatif ini dalam bahan ajar , Finochiaro (dalam
Syafei, 1997:15) menawarkan rangkaian kegiatan pembelajaran bahasa yang terdiri
atas sembilan subkegiatan. Kesembilan subkegiatan tersebut adalah: (1)
penyajian dialog singkat, (2) pelatihan lisan dialog, (3) tanya
jawab, (4) pengkajian, (5) penarikan simpulan, (6) aktivitas interpretatif,
(7) aktivitas produksi lisan, (8) pemberian tugas tertulis, dan (9) evaluasi pembelajaran
dilakukan secara lisan.
Buku
ajar komunikatif harus mampu menyajikan aktivitas komunikatif yang nyata.Tetapi
hal yang sering terjadi adalah buku ajar yang mengaku ’komunikatif’menampilkan manfaat
bahasa yang komunikatif dalam konteks kelas. Contoh dari hal ini adalah membaca
potongan gambar dan mendengarkan potongan cerita ,yang merupakan aktivitas
bermanfaat untuk mempromosikan fungsi bahasa komunikatif, tetapi tidak
didasarkan terjadinya situasi komunikasi kehidupan nyata yang umum. Menurut
Littlewood (dalam Cunningsworth, 1995), buku ajar komunikatif disebut mampu
menampilkan pengajaran bahasa komunikatif bila desain dan isinya berada pada
tingkat interaksi sosial di mana faktor-faktor kompleks seperti pembentukan
wacana dan perencanaan strategis komunikasi diwujudkan dalam praktik dan
mendemonstrasikan pentingnya menyiapkan pembelajar pada proses aktif dan dinamis untuk berpartisipasi dalam pembentukan wacana.
Sejauhmana pengalihan partisipasi dalam
penentuan dialog buku pelajaran tidak selalu diketahui, dan keterampilan
tambahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan secara efektif sering dilupakan,
kemungkinan karena mereka hanya digambarkan sketsanya saja dan dipahami pada
posisi pengetahuan kita sekarang.
Salah
satu masalah utama yang ditemui penulis buku pelajaran dalam mengusahakan untuk
mewujudkan komunikasi asli adalah kompleksita intrinsiknya yang tak bisa
diprediksi dan relatif. Tentu saja kita harus memahami keadaan tak dapat
diprediksi tersebut sebagai karakter interaksi komunikatif yang berbeda, dan
memperhatikan bagaimana buku pelajaran menuntun pembelajar menguasainya baik
secara produktif maupun reseptif.
Tahun 1983
Brumfit dan Finocchiaro (dalam Azies, 1996:67) mengemukakan ciri-ciri penerapan
pendekatan komunikatif dengan mempertentangkannya dengan Metode Audio-lingual
(lazim disingkat MA) yang tujuannya adalah untuk menjelaskan konsep pendekatan
komunikatif itu. Ciri-ciri penerapan pendekatan komunikatif tersebut dalam
pembelajaran adalah: (1) makna merupakan ha1 yang terpenting, (2) percakapan
kalau digunakan harus berpusat di sekitar fungsifungsi komunikatif dan tidak dihafalkan
secara normal, (3) kontekstualisasi merupakan premis utama, (4) belajar
bahasa berarti berkomunikasi, (5) komunikasi efektif dianjurkan, (6) latihan
penubian (drill) diperbolehkan, tetapi jangan terlalu memberatkan, (7) ucapan
yang dapat dipahami sangat diutamakan, (8) setiap alat bantu para pembelajar
diterima dengan baik, (9) segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak
awal, (10) penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima bila memang layak,
(11) terjemahan boleh digunakan kalau dibutuhkan siswa atau mereka benar-benar
memperoleh keuntungan dari itu, (12) membaca dan menulis dapat dimulai sejak
awal bila diinginkan, (13) sistem linguistik bahasa target akan dapat dipelajari
dengan sangat baik melalui usaha berkomunikasi, (14) kompetensi
komunikatifmerupakan tujuan, (15) variasi linguistik merupakan konsep inti
dalam materi dan metodologi, (16) pengurutan
ditentukan oleh pertimbangan mengenai isi, fungsi, atau makna yang
memperbesar minat, (17) guru menolong para pembelajar sedemikian rupa
sehingga dapat mendorong mereka bekerja dengan bahasa itu, (18) bahasa diciptakan
oleh individu sering melalui proses trial-error, (19) kefasihan dan
bahasa yang berterima merupakan tujuan utama, ketepatan dinilai dalam konteks
bukan dalam keabstrakan, (20) para
pembelajar diharapkan berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau pasangan,
lisan dan tulis, (21) guru tidak dapat mengetahui secara tepat bahasa
apa yang akan dipakai siswa, dan (22) motivasi instrinsik akan muncul dari
minat terhadap apa yang dikomunikasikan dengan bahasa.
Untuk dapat memilih buku ajar bahasa yang
memenuhi persyaratan komunikatif maka kita harus menelaahnya dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan mengenai desain dan isi buku sebagai berikut
(Cunningsworth, 1995): 1) Apakah buku pelajaran ini menyatakan diri menjadi
buku komunikatif pada
tujuannya, 2) Apakah tujuan komunikatif khusus
atau tujuan-tujuan yang diindikasikan
secara umum atau dengan unit-unit tersendiri, 3) Apakah silabus buku
pelajaran umumnya komunikatif ( misalnya dengan menggunakan aktivitas
komunikatif,fungsi, dll sebagaimana dalamunit-unit yang utama, 4) Apakah ada
referensi untuk menunjukkan metodologi, 5)Apakah ada bukti bahwa desain buku
pelajaran dipengaruhi pertimbangan komunikatif
(misalnya penekanan yang diberikan untuk aktivitas komunikatif,
penggunaan bahan otentik dan tugas yang realistis), 6) Jika aktivitas
komunikatif digunakan sebagai bahan pembelajaran, apakah aktivitas tersebut
nyata, terdapat kaitan dengan dunia nyata, atau realistis, yaitu komunikatif hanya dalam situasi kelas
saja)
3. Elemen/Bagian yang Tidak Dapat Diprediksi
dalam Buku Ajar Komunikatif
Seperti telah dinyatakan sebelumnya
bahwa salah satu masalah utama yang
ditemui penulis buku pelajaran dalam mengusahakan untuk mewujudkan komunikasi
asli adalah kompleksita intrinsiknya yang tak bisa diprediksi dan relatif. Dalam
hal ini buku pelajaran komunikatif harus
dapat membantu mengusahakan hal ini melalui penyediaan latihan latihan
dan aktivitas komunikatif,memfokuskan pada interaksi lisan, sebuah area di mana
penanganan keadaan yang tidak dapat diprediksi sangat penting, saat pembatas
waktu nyata muncul dan siswa harus memahamidan merespon dalam hitungn detik
(Cunningsworth,1995)
Dicontohkan oleh Cunningsworth bagaimana
elemen tak dapat diprediksi tersebut muncul dalambuku ajar. Salah satu contoh
adalah dalam Grapevine.Siswa diharapkan mendengarkan dan
memahami,mengerjakan beberapa pengulangan selektif, membaca dialog dalam
hati,dan membacanya berpasangan. Pada tahapan berikutnya, dialog membentuk
dasar aktivitas main peran, di mana isi dialog diciptakan dari memori. Bisa
dilihat bahwa walaupun bentuk ini adalah praktik bahasa lisan, hanya ada
sedikit yang bisa disebut komunikatif jika kita memasukkan keadaan yang tidak
bisa diprediksi sebagai sifat utama interaksi komunikatif, karena dialog semunya telah ditentukan,dan
aktivitas siswa sama saja telah ditentukan sebelumnya. Buku ajar komunikatif
harus dapat membantu menyelesaikan
masalah ini melalui penyediaan
latihan latihan dan aktivitas komunikatif,memfokuskan pada interaksi
lisan,sebuah area di mana penanganan keadaan yang tidak dapat diprediksi sangat
penting, saat pembatas waktu nyata muncul dan siswa harus memahamidan merespon
dalam hitungn detik.
Elemen keadaan yang tak dapat
diprediksi,walaupun bukan kesempatan bagi siswa untuk mengatakan apa yang
mereka inginkan, dibentuk untuk aktivitas kartu isyarat dari Cambridge Advance
English yang kita lihat pada bab 6 (halaman 69) dengan cara mudah membagi
membagi instruksi kepada siswa yang
berbeda-beda, berpartisipasi, meletakkaannya pada halaman yang berbeda-beda di
bagian belakang buku. Setiap siswa hanya melihat instruksinya sendiri dan tentu
saja tidak dapat melihat apa yang orang lain ingin katakan. Dalam cara ini,
praktik bagus diberikan dengan mengungkapkan diri sendiri dan merespon dengan
cepat dan efektif pada apa yang orang lain katakan sambil membuat rencana untuk
sebuah interaksi yang terkontrol dengan baik.
4. Bahasa dalam Buku Ajar Komunikatif
Karena buku pelajaran ada untuk
menyiapkan pembelajar menggunakan Bahasa Inggris secara mandiri pada dunia
nyata, maka dapat dibenarkan
membandingkan model penggunaan bahasa yang mereka sajikan dengan contoh-contoh
penggunaan bahasa kehidupan nyata sejauh bisa diusahakan.
Umumnya conversation nyata kurang
terstruktur dengan baik karena mengandung keraguan, kalimat tak lengakap. Semua bentuk itu tentu saja ciri khas bahasa
lisan yang dihasilkan oleh native
speaker (pembicara asli ).
Dalam contoh memberikan petunjuk, bentuk
petunjuk mereka sendiri bisa diprediksikan tetapi menunjukkan lebih banyak
variasi dalam tipe daripada dalam dialog buku pelajaran. Pilihan yang dipilih
adalah imperatif tetapi lebih dari 74% pembicara menggunakan lebih dari satu
tipe dan lebih dari 51% menggunakan tiga atau lebih tipe. Ini termasuk
you + verb (misalnya you go), you+auxilaary + main verb (misalnya you want
to go up this street) dan tipe tak langsung seperti The best way to go would be to...
Buku
ajar seharusnya memungkinkan pembelajar
untuk memahami cara yang lebih spesifik dalam memberi petunjuk daripada yang
terdapat di dalam dialog umumnya. Lebih dari itu penelitian itu menyarankan
bahwa pembelajar akan membutuhkan lebih banyak penggunaan bahasa untuk meminta
petunjuk daripada permintaan awal saja.
Dalam
memeriksa apakah buku ajar bisa dianggap menggunakan pendekatan komunikatif
dilihat dari keterampilan bahasa, perlu menggunakan pertanyaan-pertanyaan
berikut ini.
a. Apakah meliputi keempat keterampilan bahasa sesuai dengan tujuan
pembelajaran dan kurikulum?
b.
Apakah materi keempat keterampilan bahasa itu dilakukan secara terpadu?
c.
Apakah keterampilan serta aktivitas yang bertalian dengannya sesuai minat,
tingkat kemampuan atau yang lainnya?
d.
Apakah materi pembelajaran sudah memadai?
e.
Apakah materi menyimak telah terekam mendekati aslinya diikuti dengan latar
belakang informasi,pertanyaan, serta kegiatan yang akan memmbantu pemahaman?
f.
Apakah materi berbicara (dialog,bermain peran, dan sebagainya) disesai
secara wajarsehingga dapat diperguanakan pembelajar untuk berkomunikasi secara
alami?
g.
Apakah materi kegiatan menulis terpelihara dengan baik keakurasiannya,
pengorganisasian tulisan seperti pemaragrafan, serta pemilihan gaya penulisan
yang tepat?
5. Pengorganisasian Percakapan dalam Buku Ajar Komunikatif
Salah satu bagian dasar percakapan adalah
giliran dan penggunaan giliran adalah kecakapan penting untuk siapa pun yang
ingin mengambil bagian dalam conversation/percakapan. Faktanya penggunaan
giliran muncul dengan pengaturan waktu detik di antara dua atau lebih orang
menggambarkan bentuk kolaboratif percakapan dan menyarankan bahwa ada aturan
dan konvensi untuk penggunaan giliran yang dibagi oleh semua anggota oleh semua
anggota komunitas pidato.
Konvensi
belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa bentuk yang jelas telah
diidentifikasi yang relevan dengan pengajaran bahaasa. Pertama ada poin
tertentu dalam percakapan (mungkin pada akhir klausa utama) di mana pembicara
yang lain bisa masuk dan di mana pembicara sekarang paling tahu dalam interaksi.
Kedua, di mana interupsi muncul, pembicara mempunyai hak untuk memilih siapa
yang berbicara berikutnya. Ketiga dia bisa melakukan ini dengan menggunakan
kombinasi isyarat linguistik,paralingustik, dan kinestetik seperti memanggil
pembicara yang dinominasikan dengan namanya, tau dengan penggunaan kontak mata.
Buku pelajaran yang tertarik dalam memungkinkan pembelajar beraktivitas
komunikatif bisa menyediakan model dan mempraktikkan penggunaan giliran dan
teknik interupsi. Ini bisa meliputi identifikasi tempat di mana pembicara
berikutnya bisa masuk, baik dinominasikan maupun tidak, mempelajari cara
menominasikan pembicara berikutnya, dan mempelajari formula yang sesuai untuk
menginterupsi.
Berikut
ini adalah pertanyaan untuk mengetahui interaksi sosial dalam buku ajar
komunikatif
a. Bagian komunikasi asli apakah yang muncul :
bagian yang tidak dapat
diprediksi,
kesempatan untuk mengekspresikan informasi nyata, perasaan, pendapat dan
sebagainya, kesmpatan pembelajar untuk membentuk wacana mereka sendiri, perlu
memformulasikan dan menggunakan komunikasi, menekankan kerja sama antara pembicara
dengan interaksi komunikatif?
b. Pada level tertentu, apakah buku ajar
mengandung materi yang mewujudkan
interaksi
komunikatif dengan memperhatikan: struktur wacana interaksi (meliputi pembuka,
konfirmasi, penutup, dll), kompleksitas struktur, rentang leksis yang sesuai,
bentuk-bentuk seperti jeda (filler) dan
kalimat tak lengkap, peran pembicara dalam interaksi?
d.
Apakah materi itu membantu pembelajar dalam pergantian giliran percakapan?
e.
Apakah pasangan berdekatan dimasukkan dalam materi presentasi dan praktik?
Jika ya apakah ada contoh kerangka (bagian yang dimasukkan)?
f.
Apakah ada contoh-contoh bagian yang terpilih ini ?
g.
Apakah bantuan lain diberikan dengan
pengorganisasian dan penyususnan interaksi lisan percakapan?
D. Simpulan dan Saran
1. Simpulan
·
Secara umum tujuan pembelajaran bahasa yang berdasarkan pendekatan
komunikatif adalah mempersiapkan pembelajaran untuk melakukan interaksi yang
bermakna dengan cara mengikhtiarkan pembelajar untuk mampu memahami dan
menggunakan bahasa secara alamiah.
·
Buku ajar komunikatif disebut mampu menampilkan pengajaran bahasa
komunikatif bila desain dan isinya berada pada tingkat interaksi sosial di mana
faktor-faktor kompleks seperti pembentukan wacana dan perencanaan strategis
komunikasi diwujudkan dalam praktik dan mendemonstrasikan pentingnya menyiapkan
pembelajar pada proses aktif dan dinamis
untuk berpartisipasi dalam pembentukan
wacana.
·
Salah satu masalah utama yang ditemui penulis buku pelajaran dalam
mengusahakan untuk mewujudkan komunikasi asli adalah kompleksita intrinsiknya
yang tak bisa diprediksi dan relatif. Dalam hal ini buku pelajaran komunikatif
harus dapat membantu mengusahakan hal
ini melalui penyediaan latihan latihan dan aktivitas komunikatif,memfokuskan
pada interaksi lisan, sebuah area di mana penanganan keadaan yang tidak dapat
diprediksi sangat penting, saat pembatas waktu nyata muncul dan siswa harus
memahamidan merespon dalam hitungan detik
·
Bahasa dalam buku ajar komunikatif harus menampilkan keadaan dalam
kehidupan yang nyata sehingga memungkinkan pembelajar untuk memahami cara yang
lebih spesifik dalam memberi petunjuk, dalam mengambilgiliran berbicara
daripada yang terdapat di dalam dialog umumnya
·
Buku ajar komunikatif harus menampilkan bagian komunikasi asli : bagian
yang tidak dapat diprediksi, kesempatan
untuk mengekspresikan informasi nyata, perasaan, pendapat dan sebagainya,
kesmpatan pembelajar untuk membentuk wacana mereka sendiri, perlu
memformulasikan dan menggunakan komunikasi, menekankan kerja sama antara
pembicara dengan interaksi komunikatif
2. Saran
·
Pendekatan komunikatif tidak menawarkan pada guru untuk menggunakan buku
ajar secara mutlak, guru harus memilih, menyelaraskan dan harus menemukan
materi yang akan diberikan
·
Guru seharusnya bisa memperhatikan desain dan isi buku ajar komunikatif di
mana faktor-faktor kompleks seperti pembentukan wacana dan perencanaan
strategis komunikasi diwujudkan dalam praktik dan mendemonstrasikan pentingnya
menyiapkan pembelajar pada proses aktif
dan dinamis untuk berpartisipasi dalam
pembentukan wacana. Hal itu juga memerlukan kreaativitas guru dalam
mengembangkan bahan ajar.
·
Bagian yang tak dapat diprediksi dalam wacana dialog di dalam buku ajar
harus dapat diatasi guru dengan pengembangan bahan ajaar yang memungkinkan
siswa memahami dan merespon dialog dalam hitingan detik
·
Guru harus bisa menjadi fasilitator dan motivator sehingga siswa bisa
mengambil bagian dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa memahami dan merespon wacana
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar dan Hobir Abdullah,
2003. Revitalisasi Pendidikan Bahasa.
Bandung: STBA
Yapari ABA Press.
Azies,
Furqanul & A. Chaedar Alwasilah. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif.
Bandung :Remaja
Rosdakarya.
Cunningsworth.
Alan. 1995. Chosing Your Coursebook. Oxford: Heinemann
Littlewood,
W., 1984. Communicative Language Teaching, Cambridge :
Cambridge
University Press.
Nababan, Sri Utari Subyakto. 2005. Metodologi Pengajaran Bahasa, Gramdeia
Jakarta.
Pateda, Mansur. 1991. Linguistik Terapan, Nusa indah,
Florres Indonesia.
Richards, Jack C. dan Rogers.
2002. Approaches and Methods in Language Teaching.
Cambride: Cambride University
Press.
Sundayana,Wahyu. 2010. Landasan pengembangan
Kurikulum Bahasa. Materi
Perkuliahan. Tersedia dalam file upi.edu (diunduh tanggal 4 Januari 2012).
Syafei,Moh. 1977.
Pendekatan Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa. Bandung: CV
Rosda Karya.
Van and Alexander L.G., 1980. Thresold Level English,
England
Pergamon
Press
Widowsow,
H.G., (ed) 1986. Material and Methodology : Design Principle for A
Communicative Grammar, Practice of Teaching, United Kingdom: Pergamon Bool Ltd., C.J. Brumfit,.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar